Selasa, 27 Desember 2016

NATAL di INDONESIA, TIDAK sama NATAL Pertamakali : Tuhan Hadir Di Setiap Zaman dan Situasi Hidup Manusia

NATAL di INDONESIA, TIDAK sama NATAL Pertamakali : 

Tuhan Hadir Di Setiap Zaman dan Situasi Hidup Manusia



Peristiwa Natal memang peristiwa yang mengagumkan, karena ALLAH hadir dalam dunia mengambil rupa seorang manusia, lahir dan berproses SAMA dengan manusia, namun tanpa keberdosaan.

Namun merenungkan peristiwa Natal pertama sangat BERBEDA merenungkan Natal pada jaman sekarang.  Membicarakan Natal pertama terlalu dominan, sehingga kehilangan mengkaitkan dengan masa kini akan “mengurangi” makna dan arti Natal sesungguhnya yang mampu memberi makna dan arti di setiap jaman.

Natal di Indonesia

Natal di Indonesia tentu berbeda makna dan artinya bagi Natal di Negara lain, karena sekalipun memiliki hakekat yang sama, namun makna dan artinya bisa beragam sesuai konteks dan pergumulan dalam memaknai Natal


Natal pertama memiliki tantangan yang berbeda, pada waktu itu untuk membuktikan kebenaran akan kehadiran Mesias, sosok dan tokoh Yesus terus menerus diuji, diragukan, dipercaya dengan catatan, dll  Tantangan Natal di Indonesia sudah sangat berbeda dengan tantangan kehadiran Natal pertama (secara tidak sadar Natal-natal kita membicarakan persoalan Natal Pertama sehingga tidak “dipahami” makna dan artinya bagi manusia modern, seringkali menjadi kisah yang membosankan, bukan beritanya yg membosankan tapi cara dan memahami Natal yg tidak berkorelasi dengan situasi modern yg membosankan), Situasi …Misalnya, al :

Þ   Fatwa MUI melarang/haram orang muslim memakai atribut agama lain, dengan dasar itu maka ormas melakukan sweeping terhadap mall2 penggunaan atribut “kristen” ….baik Kapolri dan MUI mempertegas bahwa fatwa itu bukan bermaksud untuk sweeping tapi himbauan kepada umat muslim yg mau mengikuti fatwa mui itu, peringatan untuk tidak memaksa umat muslim menggunakan atribut agama lain..kasus ini seharusnya dimakna positif bagi orang kristen, supaya kita yang kristen belajar, apa sih yang harus ditampilkan dalam Natal, jangan-jangan banyak orang kristen sendiri menganggap Sinterklas, Terompet, Pohon natal, salju adalah symbol kristen….sehingga dunia salah menangkap makna natal yang sesungguhnya!! Salah tangkap karena Gereja dan sejarah yg “menerima” symbol budaya natal (Barat)…
Þ   Indonesia sedang dilanda Korupsi, Pertemuan yang dalam skala besar aksi damai yang bisa menjadi aksi kerusuhan karena ditunggangi pihak lain, 411 & 212; Fatwa MUI, Persoalan Ahok, Terorisme, Radikalisme, haram symbol agama, bencana Alam….

Dengan situasi Indonesia seperti diatas, maka apa makna Natal bagi kita di Indonesia, dimana persoalan kebhinekaan, relasi antar agama, radikalisme menjadi keprihatinan..

Natal dan Gereja

Natal adalah Kehadiran Allah dalam dunia karena bela rasa akan persoalan besar manusia yakni keberdosaan, maut.  Dunia tidak melihat secara fisik akan kehadiran Allah dalam diri Yesus Kristus, namun DIA mengutus umatNya untuk dapat menjadi saksiNya, oleh karena itu kehadiran umat percaya / Gereja dapat dikatakan sebagai perlambangan kehadiran Allah bagi Dunia.
Apakah Gereja sudah bertanggungjawab atas tugasnya menjadi “wakil” kehadiran Allah bagi Dunia ?  Jika Gereja sebagai komunitas orang percaya yang seharusnya menjadi teladan / “miniature” komunitas yang diperbaharui namun bertindak semena-mena, maka sebenarnya Gereja sudah “gagal” mewakili Natal untuk konteks sekarang ini.  Apa yang disebut “gagal”?  Gereja dalam komunitasnya ternyata terjadi ketidakadilan, diskriminasi, tidak menerima keragaman, dll maka disinilah Gereja sudah gagal menyatakan Natal kepada dunia .. L

Teks Natal

Matius 2:1-12

Teks ini seringkali menjadi teks yang dibacakan dalam ibadah Natal, apa maknanya bagi Natal di Indonesia ? ada 3 tokoh yang dapat dipelajari, yakni : orang Majus, Herodes dan para imam kepala dan ahli taurat .

Orang Majus  

Orang Majus adalah golongan ilmuwan, cendikiawan, sampai-sampai konon filsuf yunani plato ingin belajar dengan mereka.  Memang ada anggapan bahwa keilmuwan mereka bercampur dengan seni tersembunyi misteri, astrologi, ilmu sihir /okultisme, dll Namun yang dikisahkan Matius adalah mereka yang masih murni cendikiawan, mereka juga dikatakan adalah imam Zoroastrian di Persia yang mempunyai kepercayaan berbeda dengan orang yahudi.
Jadi apakah orang majus benar mencari Mesias ?  Kalau mereka adalah imam Zoroastrian maka tidak mungkin mencari Mesias ( selain tidak paham, juga tidak ada hubungannya dengan iman mereka).  Yang benar adalah para orang majus ini mencari raja orang Yahudi karena ada bintang yang khusus yang berdasarkan astronomy adalah menunjuk kelahiran orang besar /Raja, dan karena daerah orang yahudi, maka mereka beranggapan bahwa herodes tahu akan hal ini, dan wajar saja sebagai kunjungan mereka “menyembah” sang raja.  Namun konon menurut kepercayaan Zoroastrianpun ada orang baik yang akan dilahirkan perempuan perawan (Sosiosh /juruselamat versi Zoroastrian), kisah yang sangat mirip dengan kehadiran Yesus.  Jadi orang majus memang kemungkinan besar mencari orang baik sesuai iman mereka, atau raja yang kesemuanya karena orang majus mempunyai keahlian terhadap bentuk dan makna Bintang

Memang mempelajari orang majus bisa berbeda, kebanyakan orang bilang mereka adalah 3 orang, tetapi ternyata tidaklah 3 orang (biasanya berdasarkan persembahan), menurut pandangan sebelum abad kedua bahkan puluhan orang. Nama-namapun berbeda-beda atas ke3 orang majus ini, yakni dikatakan Gaspar, Melkhior dan Baltazar  (tradisi Eropa) ; sedang tradisi Suriah Larvandad, Hormisdas dan Gustasaf; tradisi Armenia hanya dua nama Kagba dan Badadilma /baru pada abad ke-enam, namun inipun masih dipertanyakan dalam sejarah. Ini menunjukkan bukan hanya 3 orang tapi memang banyak orang majus J

Makna  Bagi kita

Tokoh orang majus “tidak paham” bahwa dirinya akan mengalami perjumpaan dengan bayi Yesus, tetapi Allah sudah merencanakannya, Allah berinisiatif berjumpa dengan orang majus melalui ILMU dan BUDAYA-nya.

Gereja hari ini tidak boleh anti terhadap ilmu-ilmu yang dipelajari dalam dunia ini, juga termasuk menerima masukkan dari hasil penelitian ilmu modern.  Ilmu dan budaya yang baik bisa menjadi ALAT Tuhan dalam menjumpai umatNya.
Menangani persoalan-persoalan di Indonesia sangat memerlukan berbagai macam ilmu,pengamatan dan penelitian yang saling bergandengan tangan untuk mengurai masalah. Ilmu hukum, relasi antar agama dan pemahaman terhadap terorisme, Politik, Sosial dan budaya semua diperlukan.  Gereja yang adalah “lambang” kehadiran Natal bagi Dunia seharusnya mendukung penyelesaian situasi pelik di Indonesia dengan bergandengan bersama dari elemen2 agama lain dan ilmu lain untuk bekerjasama bagi terciptanya perdamaian dunia
Sekalipun Indonesia dilanda berbagai macam persoalan, Natal melalui Gerejanya memberi semangat bahwa kita bisa mengatasi dengan harapan di dalam keadilanNya, hikmatNya, Kasih dan kebersamaan yang selalu ditawarkan kepada dunia ..
Allah sedang menjumpai Indonesia di Natal ini, oleh karenanya kita memaknai segala masalah dengan optimis, terus mengupayakan perdamaian dan Kasih, mendorong segala pengetahuan untuk mencapai kesepakatan hidup bersama di Indonesia….Jangan lupa melalui ILMU dan Budaya (situasi kita) ALLAH mampu membisikkan Natalnya hadir di hatimu…


Herodes

Apakah benar Herodes mau menyembah DIA ? Mendengar berita ada raja orang Yahudi yang baru dilahirkan, maka terkejutlah ia (beserta seluruh Yerusalem, karena sadar akan tabiat rajanya jika marah krn ada calon berkuasa lainnya).  Seolah-olah Herodes mau mengenal, mau tahu sehingga mau memanggil dan menyelidiki ….mengumpulkan semua imam kepala dan ahli taurat bangsa yahudi (ayat 4).  Ayat 7,8 dengan diam-diam Herodes bertanya kembali kepada orang majus, bilamana bintang itu nampak, lalu memerintah pergi dan selidiki dengan seksama, sesudah menemukan diminta kembali …supaya akupun menyembah DIA ….malaikat bisikkan kebohongan Herodes atas keinginannya menyembah. Kenapa diam-diam ? karena dia malu bertanya, dan jangan jangan ada orang tahu dikira ia benar2 mau menyembah Mesias….
Herodes terkejut, takut, berbohong, berupaya keras tahu ….semua dilakukan bukan karena menyembahNya, tetapi sehubungan keterancaman akan KUASA yang dimiliki (raja atas wilayah yudea,idumea, dan Samaria). Catatan dalam sejarah Herodes agung bahkan membunuh istrinya sendiri, mertua dan 3 anaknya krn curiga merebut tahtanya (sampai ada ledekan lebih baik jadi babinya herodes daripada jadi anaknya, herodes tidak makan babi jadi aman, daripada jadi anaknya). Kekuasaan sangat mendarah daging dan nafsu dari Herodes agung. Ia menolak kebenaran yang hadir padahal ia mengetahuinya.

Makna bagi kita

Kekuasaan dan nafsu sangat membahayakan hidup seseorang, bahkan karena kuasa manusia rela meninggalkan spiritualnya, meninggalkan iman dan kepedulian terhadap sesama.
Kita sudah melihat di negri ini karena kuasa maka pejabat sangat rentan untuk korupsi dan melakukan kejahatan publik.  Kekuasaanlah yang menyebabkan sekelompok orang ingin menjadikan negri ini dibawah kendali dan keyakinannya (bukankah Radikalisme dan Terorisme adalah semangat berkuaasa dan merelakan untuk membunuh sesamanya). Berhati-hatilah terhadap segala sikap ketamakkan, kuasa, dll  bisa menghancurkan diri karena menolak keselamatanNya; menghancurkan sesama dan negri Indonesia

Imam Kepala dan Ahli Taurat


Ironis sekali jika kita membaca kembali akan ayat 5,6 para imam kepala dan ahli taurat orang Yahudi dapat dengan tepat menjawab pertanyaan Herodes, namun mereka sendiri TIDAK TAHU bahwa NUBUAT itu sedang terjadi !! Bahkan ada kehebohan kelahiran Mesias, mereka enggan tahu /acuh tak acuh; bahkan kita melihat dalam kisah Injil mereka MENOLAK SANG MESIAS !!

Makna bagi kita

Banyak pertayaan kita tentang makna dan arti beragama saat ini di Indonesia, karena demi “keyakinan” malah memusuhi sesama, membunuh sesama dan melahirkan kebencian dan permusuhan.
Jika kita melihat keagamaan dari imam kepala dan ahli taurat ( mereka bukan awam tetapi ahli kitab dan mempunyai kedudukan dalam keagamaan) maka kita bisa melihat cermin keagamaan yang tanpa makna.  Keagamaan dijadikan sebatas pengetahuan, ritual-ritual, dan budaya saja.  Agama yang sejenis begini TIDAK PERNAH menangkap akan kebenaran (natal) yang sesungguhnya.  Tidak berlebihan jika akhirnya pola keagamaan seperti ini juga DITOLAK oleh Sang Natal.
Gereja sebagai lambang kehadiranNya bagi dunia (Natal bagi Dunia) seharusnya mengevaluasi kehidupan spiritualitas yang dihasilkan, apakah melahirkan warga gereja yang mau menciptakan perdamaian, tanggap kepada kehadiran ALLAH di dalam dunia (bukan terbatasi tembok gereja saja) , Gereja dengan spiritualitas yang benar akan berdampak bagi perdamaian dan keadilan bagi DUNIA, karena ALLAH mengasihi DUNIA dan rela datang kedalam DUNIA untuk menyelamatkannya….mari membangun spiritualitas yang berdampak nyata..

Natal di Indonesia penuh tantangan, tetapi jika kami sebagai gerejamu mau belajar akan berbagai ilmu dan budaya untuk menghadirkan kasihMU, Menghindari kekuasaan dan nafsu yang menghancurkan sesama dan Mengevaluasi Spiritualitasnya sehingga berdampak bagi sekelilingnya, maka NATAL menjadi penuh makna bagi Indonesia kita …Merdeka, Damai sejahtera ALLAH turun atas kita sekalian…

Renungan Natal 2016

Pdt. Agustina Manik, M.Th





















Gereja, Prapaskah dan Covid-19 ( jatim darurat bencana covid 19, 20 maret 2020) Masa Prapaskah 2020 diiringi dengan situasi ...