Kamis, 11 Juli 2019




Perempuan dan “Liyan”
  Prof. Dr. F.X. Eko Armada Riyanto, Cm


            “One is not born, but made a woman,” adalah ungkapan filsuf Simone de Beauvoir yang menggambarkan kondisi perempuan dalam societas, menurutnya perempuan itu tidak (pernah) ada sampai dia “dibuat demikian” oleh societasnya.   Diskursus filosofi Liyan tidak terpisahkan dari eksistensi perempuan karena dalam sejarah peradaban manusia perempuan diperlakukan berbeda dengan laki-laki, dipandang protogonis dan diperlakukan sebagai antagonis.  Perjalanan societas modern masih menempatkan perempuan dalam dunia Liyan, dunia ketertindasan dan keterpurukan.  Ratifikasi perundang-undangan kerap menceburkan permpuan dalam kubangan ketidakpastian mengenai hak-hak atas tubuh dan eksistensinya.

Wajah Liyan Sumiati
            Dalam kasus penganiayaan Sumiati di Saudi, kaki hampir lumpuh, muka sembab, bibir digunting, dll  Ini menggambarkan Sumiati sebagai subyek yang ingin dilenyapkan martabatnya.  Filsuf Hegel menegur, dikatakan setiap kesadaran manusia selalu mengharapkan kematian Liyan (Other).
Situasi komunitas kita /negri baru memandang Sumiati setelah babak belur, di negri sendiri, TKI identik yang tersisihkan, karena keterampilan dan kemampuan mereka bekerja tidak diperhatikan sehingga rentan terhadap penganiyaan.  Sebenarnya situasi perempuan sudah lama ada dalam keterkungkungan, pendidikan bukan hak mereka, mereka dianjurkan cepat mencari laki-laki, kemudian menjadi pendamping laki-laki /suami, menjadi manusia yang tidak pernah mandiri, manusia yang tergantung dan terikat, mereka berada di pinggiran kehidupan sehari-hari.  Belum lagi mereka rentan terhadap kekerasan, manipulasi, perbudakan, penganiyaan dalam rumah tangga.

Narasi Shamelin
            Narasi Shamelin juga narasi seorang Liyan, seorang pembantu rumah tangga yang bergelantung dengan seutas tali dari apartemen tinggi karena mendapat perlakuan yang tidak manusiawi jika ada kesalahan dan haknya (gaji) tidak diberikan selama 5 bulan. Banyak kasus serupa dalam wajah humanitas kita. Emmanuel Levinas mengingatkan prinsip etis kehadiran manusia adalah sebagai subyek, tidak ada ruang /tenggang waktu manusia diperlakuan sebagai obyek.  Shamelin adalah potret manusia Liyan yang tertindas.

Menggembok Kesadaran
            Perempuan sebagai Liyan tidak saja terjadi pada zaman Kartini, tetapi juga saat ini ketika dirinya “digembok” dalam kungkungan kultur maskulinistik   Kartinilah simbol kebebasan, dimana ia meneriakkan kesadaran akan keterpurukkan dari lubang keniscayaan adat istiadat.  Kartini dapat dikatakan pemicu kesadaran maju, kesadaran kebebasan.  Dalam agama perlakuan perempuan sama saja, perempuan malah diperlakukan dalam “perlindungan” maskulinitas, agama malah mundur dalam prinsip-prinsip kebebasan.
Simbolisme gembok megidentifikasi seakan-akan perempuan nyaman, padahal perempuan sudah tereduksi pada tubuhnya, dipersempit hanya yang menimbulkan nafsu (perempuan identik dengan alat kelaminnya), sekalipun perempuan dilabelkan pekerja keras, namun sehari-harinya mereka direndahkan, dipermalukan.  Perempuan dalam kerja kerasnya diasosiakan dengan kehinaan (derita TKW), goyangannya diasosiasikan dengan kepornoan, kemolekkan tubuh dan kecantikan dilihat sebagai introduksi bahaya kriminalitas.  Dimana subyektifitas perempuan?

“The second sex”
            Liyan adalah the second sex.  Perempuan disebut demikian karena sex, ia berbeda tetapi juga dibedakan dari laki-laki.  The second sex disini bukan dalam pandangan perilaku seksual, kategori sosial dalam peran fungsional kemasyarkatan, tetapi dalam kategori ontologis keseharian dan transcendental sekaligus.  Para filusuf banyak menempatkan perempuan dalam mahluk yang menggembol beban seksual, bahkan perempuan masuk kategori wilayah tidak jelas (tidak dipehitungkan dalam area maskulinitas).  Plato menempatkan polis tidak ada dalam area perempuan, perempuan bukan warga negara, polis identik dengan laki-laki, perempuan ada dalam kerumunan para budak.  Demikian filsuf-filsuf lain menenggelamkan eksistensi perempuan (bertugas melahirkan, perempuan tidak hadir dalam dinamisme sejarah).

Me-Liyan-kan Perempuan
            Sejarah perundang-undangan di banyak tempat di negara ini kerap menjadi sesuatu yang emblematis dari sebuah upaya ratifikasi hukum yang pada intinya menyembunyikan maksud-maksud untuk “me-liyan-kan” perempuan.  Dalam sejarah peradaban, positivisme merupakan salah satu musuh paling hebat dari prinsip keadilan tata hidup bersama.  Positivisme umumnya dikenal dalam sistem hukum, tetapi karena hukum gandengan dengan prinsip nilai baik buruk, positivisme juga berurusan dengan moral.  Dalam Positivisme setiap pengesahan undang-undang adalah kemenangan, selanjutnya rentan terhadap intimidasi, penindasan, kesewenang-wenangan, penyepelean pribadi-pribadi manusia.
Sebagai contoh positivism, dalam RUU Porografi dan pornoaksi (RUU-PP)  dimana fokusnya kerap dihubungkan dengan goyangan pantat, pamer perut, pusar, paha, dada.  Dan hampir semuanya diatribusikan pada segala hal milik perempuan.  Paling runyam dalam RUU-PP ialah diskriminasi dan hal ini tertuju kepada perempuan, cara berpikirnya lebih banyak dilihat dari sisi fisik yang merisaukan laki-laki, seharusnya kalau adil apa yang ada dari laki-laki juga diperlakukan sama.  Sangat rancu pemikiran nilai buruk dari penilaian RUU-PP ini.

Para perempuan yang mengesankan dalam Bharatayuda
            Dalam pewayangan jawa, kerap perempuan tidak menjadi lakon, perempuan kerap tampil sebagai Liyan (kecuali srikandi).  Namun demikian beberapa kisah menampilkan “wajah”  yang mengesankan.  Kakawin Baratayuda menghadirkan perempuan dengan segala personalitasnya.  Ada perempuan membenci (Drupadi terhadap kesombongan Dursasana), mencintai (Sitisundari terhadap Abimanyu atau Setyawati terhadap Prabu Salya), tegar dan teguh (Kunti ketika memberi semangat kepada anak-anaknya untuk melaksanakan dharma), berani dan berkorban (Srikandi).  Dalam kakawin Bharatayuda perempuan-perempuan secara kongkrit hadir, melaksanakan dharma mereka, personalitas mereka nampak nyata, sementara RUU-PP nampaknya melindungi perempuan tetapi malah menenggelamkan personalitas perempuan , perempuan hanya identik dengan “seonggok daging” (tubuh) yang memiliki karakter-karakter sensual atau yang berkaitan dengan pornografi dan pornoaksi yang menimbulkan birahi laki-laki.

“Wajah” Perempuan

            “Wajah” (kehadiran personal) dari perempuan-perempuan dalam kakawin Baratayuda lebih menampilkan prinsip-prinsip individual humanis.  Para perempuan menikmati kultur dependensi-independensi terhadap budaya patriakhal, termasuk dalam mengekspresikan cintanya.  Ekpresi cinta hanya mungkin dalam kebebasan. Tidak banyak yang ambil bagian dalam perang, tetapi keterlibatan khas masing-masing dari Kunti, Drupadi, Setyawati, Srikandi, Utari, Sitisundari, dll mengukir simbolik rupa-rupa wajah cantik nan memesona.  Sementara itu “wajah” perempuan dalam penyusunan RUU-APP terancam tenggelam dan hiruk pikuk perdebatan paranoid bahasa simbolistis modernitas.  Ponografi dan pornoaksi adalah dua entitas yang menjadi sasaran telunjuk sebagai biang keladi dari segala kebobrokan moral.  Ketika sensualitas diidentikan dengan introduksi nafsu birahi (dari laki-laki) yang menggelandangkan mereka kebejatan, rasionalitas seakan dinisbikan. Yang ada dari perempuan: “seonggok” tubuh yang menjadi obyek pemuas nafsu (laki-laki). RUU-APP Berlagak sebagai rambu-rambu moral yang melindungi “tubuh” perempuan dari kemungkinan manipulasi dan eksploitasi seksual, padahal perempuan kehilangan kehadirannya /disangkal.

Kamis, 04 Juli 2019

FILSAFAT “LIYAN”

Know yourself
  Prof. Dr. F.X. Eko Armada Riyanto, Cm









            Filsuf Yunani memiliki keyakinan bahwa “the Self” adalah lapangan pencarian kebenaran. “know yourself” adalah langkah pertama perjalanan manusia menggapai kebenaran.  Dengan “langkah” dimaksudkan kesadaran. Inilah kesadaran awal manusia dalam membangun filsafat. “Know yourself” dalam ranah filsafat melebihi pemahaman penjelasan dari sisi sosiologis, psikologis, psikodinamika, karena “know yourself” adalah aktvitas yang bergulat untuk mencari kebenaran. Bagaimana caranya ?  Sokrates mengatakan sebagai sebuah pengembaraan akal budi  untuk memeluk kebenaran. “Know yourself” adalah kesadaran dan kebijaksanaan itu sendiri. “Know yourself” dapat digambarkan sebuah perjalanan, pengembaraan, penziarahan batin dan akal budi untuk menggapai kebijaksanaan ilahi. Jadi “know yourself” bukan definisi diri seperti umumnya dimengerti sebagai identitas diri, tetapi terus menerus mencari pengetahuan dan kebijaksanaan yang tak akan membawa dirinya kepada kesia-siaan hidup.

Liyan dalam Plato, Aristoteles

Plato menggambarkan konkrit  bahwa jika seseorang tidak belajar filsafat  dapat dikatakan /dengan kata lain orang tersebut tidak mengenal esensi realitas, orang itu bagaikan di gua gelap yang melihat pertunjukkan di tembok yang adalah bayangan tetapi dianggap realitas, berfilsafat orang harus keluar dari gua dan menghayati terang kehidupan.
Plato menguraikan kepentingan filsafat berurusan dengan terminologi realitas dan bayangan, tetapi realitas bagi terminologi Plato bukan kehidupan sehari hari, namun melukiskan kesejatian, kebenaran, keabadian, bahkan apa yang kita bisa sentuh sehari hari . Bagi Plato yang ada hanyalah bayangan dari realitas “idea” yang berada disana.  Sedangkan menurut Aristoteles manusia dalam mencari kebijaksanaan mempunyai kesadaran akan tujuan, tujuan perbuatan manusia adalah kebaikan, dan tujuan tertinggi meraih kebahagiaan, demikian juga tujuan dari “the Self,” yang mana bagi Thomas Aquinas kebahagiaan manusia dijumpai dalam Tuhan, sedangkan Agustinus menagatakan bahwa Tuhan adalah kehausan abadi dari hati diri manusia.“know yourself” bukan sekedar memasudkan makna sosiologis atau psikologis “mengenal diri sendiri.” Melainkan mengatakan kedalaman “yang mengatasi diri sendiri.”  Atau filsafat skolastik menyebut “the Self” berkarakter transenden, yang dimaksud adalah kebijaksanaan sejati, menyatunya manusia dengan Sang Pencipta.  Lalu dimana “the other” (Liyan) dalam filsafat ?

Panorama “the Self” dalam filsafat Timur

Filsafat hinduisme India menyebut “the Self” sebagai Atman, yg juga berarti “soul.”  Tetapi Atman bukan sekedar istilah, Atman adalah imperceptible, timeless, perpetual and essential self, residing within the mortal frame of every Jiva.  Atman tidak akan mati, ia adalah subyek abadi, ia adalah yg nyata dari kita ketahui di luar pengetahuan itu sendiri.  Atman secara intrinsik terpaut pada kesadaran murni Brahman, Roh Kosmik.  Brahman adalah sumber abadi dari eksistensi, sedangkan Atman lebih kepada jiwa setiap individu ( ada yang tidak membedakan juga). Atman adalah “the Self” yakni kesetiaan, prinsip sekaligus beyond akal budi dan segala kapasitas batin dan pencerapan rasa. Jika “the Self” adalah kepenuhan, dimana “the other” ?

Arjuna mencari “the Self”
            Jika arjuna masih menjalani hidup dalam taraf badani, ragawi, masih mengenal dengan “tool” akal budi, yang dijumpai adalah distingsi-distingsi reduktif, semacam hitam putih, subyek obyek, mayoritas minoritas, dll.  Sedangkan di pengetahuan Atman tidak ada kategori musuh atau kawan, tidak ada distingsi-distingsi karena Atman adalah kesempurnaan, kebenaran dalam diri manusia (“the Self”). Sampai sini maka alam pikiran Timur konsep “the Other” (Liyan) menjadi sebuah kemustahilan.  Liyan seolah sebuah terminologi yang tidak memiliki fondasi filosofis.
Kamu adalah “Atman.” Orang Hindu tidak memiliki konsep Tuhan sebagai pribadi, Tuhan adalah manusia, manusia adalah Tuhan, didalam diri manusia adalah Atman.

Asal usul Liyan

            Liyan diluar peradaban, konsep Liyan tidak mungkin karena orang lain adalah kehadiran Tuhan.  Konsep rogorus etis luar biasa bahwa Tuhan hadir dalam sesamaku, menghadirkan kecintaan pada ciptaan.  Lalu dari mana konsep Liyan muncul ? karena tidak mungkin dalam konsep timur.  Drama tentang Liyan mulai dari episode rasionalitas politik, dalam politik manusia terbagi, terdistingsi, dan juga tereduksi.  Disini manusia mulai masuk kategori-kategori virtual dan real sekaligus.    Plato menyebut polis dengan lapisan-lapisan masyarakat, seperti “pemimpin,” militer,” dan “produsen,” mereka disebut warga negara.  Dalam pengertian ini maka bisa saja anak-anak dan perempuan tidak termasuk warga negara, apalagi para budak dan orang asing walau mereka ada di wilayah kategori warga negara, disinilah penyebutan Liyan, mereka orang lain, bukan bagian dari “the Self”-nya polis.  Aristoteles dalam bukunya politics, dimana buku pertamanya mengenai kodrat manusia terdiri dari the ruling and the ruled, dalam hal ini Aristoteles juga menggagas tentang kodrat dan polis yang identik dengan kodrat manusia.  Dalam filsafat Aristotelian, Liyan menemukan kejelasannya karena menjadi sosok-sosok  yang tidak terhitung dalam tata kelola hidup bersama. Liyan dalam warga negara adalah wilayah pinggiran /tidak terhitung.
            Dalam era kolonialisme jelas mengatakan bahwa Liyan adalah sosok-sosok manusia yang berlumuran dengan derita penindasan.  Mereka tidak memiliki aneka akses bagi keberadaan manusiawinya.  Liyan adalah subyek penderita, liyan adalah non-being dalam ranah politik kolonial. 
            Liyan di zaman Modern, filsafat Cartesian Cagito ergo sum mendeklarasikan akal budi sebagai dewa. Liyan mereka yang terpinggirkan, liyan identik dengan keterbelakangan.
            Pada masa “Enlightenment” dimana zaman menghargai intelektual, radikalisme intelektual, pencarian kodrat rasional manusia adalah hal penting, dalam situasi ini kebenaran yang tadinya mandiri menjadi alternatif atau pilihan bebas hati nurani saja.  Dalam situasi ini pembebasan mendapat ruang, dimana tidak perlu tunduk kepada apapun.  Liyan disini mereka yang terdesak dari benih kemajuan ilmu pengetahuan dan sosok-sosok sederhana.
            Liyan periode ideologi yang dibayangi dengan revolusi industri /sosial maka Liyan adalah kelompok masyarakat yang tersisih, tertindih oleh beban kehidupan dan terpojok karena kemiskinan, struktur masyarakat sangat rentan terhadap ketidakadilan.
            Dalam filsafat eksistensialisme adalah menjelajah kondrat manusia pada tataran dasar sekaligus mendalam, ia mengobrak ngabrik kemapanan dan kemandekan, musuh utamanya adalah dogmatisme dan rasionalisme.
            Eksistensialisme individu dan personalitas mengemuka, menebarkan prinsip kebebasan dan melakukan kritik-kritik dan mengajukan ironitas kebekuan hidup sehari-hari. Bagaimana paham Liyan dalam eksistensialisme ? sekalipun orang lain adalah neraka, ancaman terhadap kepenuhannya, tetapi eksistensialisme tidak menghendaki the other lenyap, ia tidak berhayal ketidakhadiran Liyan, tetap memerlukan Liyan dalam kebersamaan tetapi fungsinya dalam makna particular, eksistensialis akan mengaktualisasi dirinya secara ekstrem menembus batas-batas totalitas dan komunitarianitas.


Gereja, Prapaskah dan Covid-19 ( jatim darurat bencana covid 19, 20 maret 2020) Masa Prapaskah 2020 diiringi dengan situasi ...