Tampilkan postingan dengan label Gender- derita perempuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gender- derita perempuan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Mei 2011

Kerjasama /Jejaring dengan lembaga2 se-VISI

Sekilas Pokja Kemitraan GKI Sinwil, Jatim

Kurang Lebih tahun 1998 beberapa pendeta perempuan GKI Sinwil (Agustina, Novarita, Claudia, Naning dan didukung Pdt. Em Debora) jatim memiliki beban bersama untuk membantu persoalan-persoalan perempuan khususnya "ketidakadilan" yang diterima pihak perempuan di kondisi masyarakat patriakhal. Nama pokja kemitraan adalah nama yang diusulkan kemudian karena dirasakan nama Kelompok Peduli Perempuan tidak terlalu tepat jika persoalan-persoalan perempuan bukan hanya di fokuskan kepada perempuan tetapi kepada kebersamaan dengan relasi laki-laki juga. Selama 7 tahun kelompok peduli perempuan bergerak secara independent, dengan memulai menjajaki kebersamaan dengan PERWATI (persekutuan wanita teologia) dengan mengikuti kongres pertama mereka dan adanya pengutusan ke jatim atas diri Pdt. Meita Sartika. Setelah dipikirkan oleh beberapa pengurus KPP maka kami memutuskan tidak mengikuti Perwati tetapi lebih baik bergerak sendiri dibawah Sinwil jatim sejak tahun 2005.
Tahun lepas tahun akhirnya Visi semakin jelas bagi kami untuk sungguh2 membawa beban untuk keharmonisan laki-laki dan perempuan di masyarakat patriakhal, dengan meyakini bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan dengan sederajat dan berharga. Mengapa banyak isu-isu KDRT, Trafficking menjadi prosentase besar di Indonesia? hal ini sangat diyakinkan pokja kemitraan bahwa apa yang akan dikerjakan kedepan adalah dalam rangka mengembalikan citra manusia pada relasi yang benar dan harmonis..
Pokja kemitraan juga akan bekerjasama dengan pihak-pihak manapun (antar agama, lembaga, dll) yang memiliki visi serupa untuk membangun manusia seutuhnya, khususnya persoalan-persoalan pemahaman gender awareness dan dampaknya bagi isu-isu sosial khususnya di Indonesia

VISI POKJA KEMITRAAN

Terciptanya keharmonisan peran perempuan dan laki-laki guna melahirkan karya yang positif

MISI

1. Terbangunnya kesadaran gender dan sikap kritis terhadap pemahaman budaya
     patrilineal dalam teks Alkitab kepada gereja dalam lingkungan Surabaya dan
     sekitarnya
2. Terbangunnya kemitraan antara perempuan dan laki-laki dalam kehidupan
    bergereja
3. Terbangun kerjasama dengan lembaga-lembaga lain (sosial,budaya,politik)
     yang se-visi untuk membangun masyarakat yang sadar gender

Pada Tanggal 10-12 Mei 2011 Pokja Kemitraan menjalin komunikasi dan menjajaki kerjasama dengan lembaga-lembaga lainnya, yakni :

1. Komnas Perempuan , Jln Latuharhary jakarta timur  (sehubungan kebijakkan undang2 dan data2)


2. Mitra Perempuan  (pendampingan terhadap kasus-kasus kekerasan /Kdrt)


3. Kalyanamitra (Pusat Komunikasi dan Informasi Perempuan)


     4. Kapal  (Women Learning Center for Gender Justice and Pluralism)



Visi
Terciptanya masyarakat sipil, khususnya gerakan perempuan yang kuat untuk mempercepat terciptanya masyarakat yang memiliki daya pikir kritis, solidaritas, berkeadilan sosial, berkeadilan gender, pluralis, transparan, dan anti kekerasan.
MISI
  1. Mengembangkan pendidikan alternatif perempuan yang meningkatkan keadilan gender, nilai-nilai pluralistik, otonomi, dan kepemimpinan perempuan;
  2. Mengembangkan resource center untuk memfasilitasi dan memperkuat kapasitas komunitas-komunitas belajar di Indonesia yang dapat diakses oleh publik;
  3. Membangun gerakan bersama untuk mendorong dan menciptakan kebijakan-kebijakan pendidikan yang pro rakyat miskin, kelompok marginal, dan perempuan.
Nilai-Nilai Dasar yang Menjadi Acuan Organisasi
  1. Keadilan sosial
  2. Keadilan gender
  3. Pluralisme
  4. Solidaritas
  5. Anti Kekerasan
  6. Transparan
Tiga Strategi yang Telah Dikembangkan di KAPAL Perempuan
  1. Strategi pengorganisasian dan pendidikan melalui kegiatan pendidikan pluralisme dan pendidikan komunitas.
  2. Strategi advokasi dengan melakukan advokasi budget dan penguatan kapasitas bagi jaringan.
  3. Strategi riset dan publikasi yang menjadi strategi utama KAPAL.
Kiranya melalui komunikasi, visitasi maka berharap Pokja Kemitraan Sinwil Jatim dapat menjadi mitra kerjasama dari lembaga kristen yang turut berpartisipasi dalam pembangunan masyarakat Indonesia yang adil gender dan mengurangi isu-isu sosial sehubungan dengan Kdrt, Trafficking, dan kesadaran gender.....:)

Minggu, 24 Oktober 2010

Jugun Ianfu II

 Lanjutan ....

Diawal 1990an, Kim Hak-sun dari Korea memecahkan kebisuan.  Murka karena seorang wakil pem.Jepang berani menyangkal keberadaan sistem wanita penghibur, ia menceritakan kisah dirinya 1991. Hal ini menjadi pertanda dimulainya gerakan internasional.  Tersentuh kesaksian wanita korea, sejarawan Jepang Yoshiaki Yoshimi menggali arsip dan menemukan bukti2 resmi terdokumentasi ttg kebijakkan Jepang mengenai bordil militer. Jepang merasa perlu mengadakan penyelidikan.  Dlm bulan agustus 1993 hal ini menghasilkan apa yg disebut sebagai "pernyataan kono," dimana pem.Jepang mengakui bahwa penguasa militer masa itu , secara langsung tidak langsung terlibat dalam pembuatan dan pengelolaan tempat penghiburan dan pemindahan para "wanita penghibur."  Pada sisi lain, perekrutan dilakukan oleh agen swasta, walaupun atas permintaan pihak militer.  "dalam banyak kasus, para wanita direkrut bertentangan dengan kemauan mereka sendiri, mealui cara2 pembujukkan, pemasaksaan dsb. dan kadangkala, personil administrasi/militer ikut mengambil bagian dalam perekrutan ini "
(Jugun Ianfu, Hilde Janssen h.10)

Mastia 1927, Sumedang,Jawa Tengah  (atas)

Mastia diambil paksa dari rumahnya oleh tentara jepang bersama 15 gadis lain dan diangkut ke markas tentara Cimahi.  Seorang kapten Jepang menjadikan Mastia wanita penghibur pribadi. Setelah Mastia pulang kampung ia menjalani upacara penyucian religius untuk membersihkan segala "kotoran."  Namun orang tetap memanggil saya "bekas jepang" dan menghina saya...sedih, saya sangat sedih, saya selalu teringat.  Mastia menikah empat kali dan tidak mempunyai anak.



Ronasih 1931, Serang , Jawa barat 

Padaa saat Ronasih masih berumur 13 tahun dan sedang pulang sekolah, dia diculik seorang serdadu kemudian dikurung di barak dekat desa.  Secara sistematis ia diperkosa selama 3 bulan oleh serdadu yg disebut "si bewok."  Ayahnya berusaha datang dan menggantikan ronasih sebagai tenaga kerja paksa, namun sia-sia.  Ronasih akhirnya disuruh pulang dengan keadaan tidak mampu berjalan lagi, dan harus merangkak untuk pulang karena badannya sakit.  beberapa kali nikah dan tidak dapat memiliki keturunan
Rosa 1929, Tanimbar, maluku Selatan

Kepala kampung mengatur pengiriman rosa ke rumah bordil Jepang di kota, padahal saat itu ia sedang hamil.  Pada saat akhir kehamilannya, ia diijinkan pulang namun bayinya tidak dapat diselamatkan seteah dilahirkan.  Rosa akhirnya tetap dinikahi pacarnya, dan penduduk kampung bungkam ttg kisah masa lalunya...rosa tidak berani menyatakan kisah lalunya kepada anak2nya karena baginya sangat memalukan... 

Senin, 18 Oktober 2010

Jugun Ianfu I

 Jugun Ianfu adalah "wanita penghibur."....inilah kisah hidup yang mengharukan seteah 65 tahun berselang, mereka rata-rata gadis berusia 13 tahun yang diperkerjakan seks, diperkosa oleh serdadu2 jepang di barak2 dekat desanya. Bagi Militer Jepang sistem wanita penghibur ini adalah sebuah kebijakkan pragmatis saja, bahkan disahkan dalamkementrian perang jepang tahun 1938.  Cara ini dapat mengatasi seks secara terkontrol, cara efektif untuk merangsang semangat pasukan, memelihara hukum dan tatanan, menghindari penyakit kelamin (1920an dan 1930-an banyak terjadi thd tentara Jepang di Siberia dan Manchuria)....80.000 an perempuan di wilayah asia,dibawah kekuasaan Jepang, saat memasuki PD II...jajahan mereka termasuk Indonesia.
Balatentara Jepang mendirikan rumah bordil militer utk pasukan jepang (+/- 3 juta), sekitar 50.000-200.000 jugun ianfu, termasuk 5000-20.000 orang indonesia ...
Bagaimana cara tentara Jepang memaksa mrk bekerja seks ini ??  Mereka diculik,diancam, diambil dr jalanan secara paksa atau janji2 palsu, diseret dr rumah mereka, dipanggil melalui kepala desa....usia mereka 11,12,13 pada saat kejadian tersebut....sungguh tragisss...

(Proyek Jugun Ianfu inisiatif wartawati Hilde Janssen dan Fotografer Jan Banning; dipersiapkan pertengahan tahun 2007- pemotretan Mei 2008-Juli 2009)




Wainem 1925, Karang Anyer, Jawa Tengah
 Kisahnya ia diambil paksa berprostitus, setahun di Solo dan dua tahun di Yogyakarta.  Siang hari bekerja bersama perempuan lain, tapi seringkali dibawa para serdadu ke kamar mereka di barak, tiap minggu diperiksa apakah hamil oleh seorang dokter jawa, yang diawasidokter Jepang.




  Emah 1926, Kuningan,Jawa Barat
Kisahnya dibawa dari rumah dan selama tiga tahun dia dipaksa berprostitusi dibeberapa bordil tangsi di Cimahi.  Diberi nama Jepang (karena umumnya mereka datang diphoto,diberi nama jepang) Miyoko dan sehari paling kurang melayani 10 lelaki: serdadu biasa dan perwira.....Serdadu memilih foto2 yang dipajang, dan Emah terpilih terus, sehingga ia menyesali kecantikkannya, bahkan mengatakan ingin terlihat jelek supaya dipulangkan.  Ketika ia pulang setelah perang berakhir, ternyata kedua orangtuanya sudah meninggal karena sedih. Sampai berusia lanjut dia tetapmencari nafkah sebagai pemijit tradisional, dan tidak pernah bisa mengandung. 

Pencapaian Doktor FISIP UNAIR

  UJIAN DOKTOR TERBUKA  19 JUNI 2025  Pdt. Em. Dr. Bertuah Agustina Manik  Panitia Penguji Disertasi  Ketua : Prof. Dr. Bagong Suyanto, Drs....