Sabtu, 17 Januari 2026

Pencapaian Doktor FISIP UNAIR

 

UJIAN DOKTOR TERBUKA 
19 JUNI 2025 

Pdt. Em. Dr. Bertuah Agustina Manik 


Panitia Penguji Disertasi 

Ketua : Prof. Dr. Bagong Suyanto, Drs., M.Si 
Anggota :
1. Dr. Kris Nugroho, Drs., MA
2. Prof. Dr. Dwi Windyastuti Budi H, Dra.,MA.
3. Prof. Dr. Phil. Toetik Koesbardiati, Dra
4. Prof. Diah Ariani Arimbi, S.S., M.A., Ph.D
5. Prof. Sulikah Asmorowati, S.Sos., MdevSt.,Ph.D.
6. Dr. Sri Endah Kinasih,S.Sos., M.Si.
7. Imam Yuadi, S.Sos., M.MT.,Ph.D.
8 Dr. Sudarso, Drs., M.Si 

Tertutup 03 Maret 2025 
Ketua : Prof. Dr. Phil. Toetik Koesbardiati , Dra
Anggota :
3. Prof. Dr. Bagong Suyanto, Drs., M.Si 
4. Airlangga Pribadi Kusman, S.IP., M.Si., Ph.D
5. Prof. Dr. Hotrman Siahaan, Drs.
6. Prof. Dr. Warsono, MS ( mantan rektor UINSA) 
Surat tugas 26 Februari 2025 

Nomor : 2326/UN3. FISIP/I/PK.03.02/2025

1. Dr. Kris Nugroho, Drs., MA
2. Prof. Dr. Dwi Windyastuti Budi H, Dra.,MA.

"Dari Traumatis Menuju Harmoni Sosial: Refleksi Pengalaman Penyintas Pengeboman Gereja 13 Mei 2018 Dari Perspektif Peter Berger dan Thomas Luckmann"
 


Dr. Bertuah Agustina Manik, S.Th., M.Th. (071817047308)


ABSTRACT

 

Indonesia is a country with a pluralistic society, both cultural, linguistic, religious and ethnic.  Pluralistic societies are generally prone to conflict and intolerance.  Indonesia is a country prone to intolerance, especially intolerance in the context of religion.  This research exposes religious intolernce, especially Christianity to Muslims, in the context of the bombings in three churches in Surabaya, on May 13, 2018.

This research uses a qualitative method, with the perspective of community construction theory from Peter L. Berger and Thomas Luckmann.  The informants in this study were victims of acts of radicalism, in three churches in Surabaya on May 13, 2018. Informants from the Catholic Church of Santa Maria Immaculate are activists and teachers of the faith, Informants from the Indonesian Christian Church are clergy, elders and activists, and informants from the Central Pentecostal Church of Surabaya are clergy and people. The purposive research location is the city of Surabaya, according to the bombing incident on May 13, 2018.

The results of this study show that the impact of intolerance on the bombings in the three churches can be challenged through Berger and Luckmann's theory through externalization, where informants have trauma to people who wear Muslim religious clothing, vigilance, suspicion, and daily attitudes that avoid relationships with Muslims. However, this has changed, in the process of objectification. The Church as an institution.

The government and religious leaders, through interfaith prayer gatherings, have expressed their strong condemnation of the church bombings, but also their faith in forgiveness and peace.  The church bombing incident is a threat to the Indonesian nation, therefore all elements must unite. This externalisation and objectification simultaneously influence internalisation, so that informants from various layers realise that the bombing incident is addressed with collective vigilance. The finding of this research is an attitude of harmony and solidarity rather than intolerance.

The study found that acts of intolerance in the church bombings in Surabaya did not succeed in dividing the community, did not succeed in cornering Christians to retaliate and be intolerant of Muslims. The conclusion of this study is that religious intolerance, especially the bombing of Christian houses of worship, does not have an impact on division, retaliation or other intolerance, even if an attitude of solidarity is developed. This is due to the cooperation between religious institutions, the government and religious leaders to realize unity and mutual vigilance.

 

Keywords: religious intolerance, radicalism, externalization, objectification, internalization.


 

                                                            KATA PENGANTAR

Puji Tuhan, Praise The Lord, saya bersyukur untuk proses study di Universitas Airlangga, study ini dapat menjadi proses spiritual yang sangat menggembirakan dan penuh anugerah Tuhan.  Saya terus belajar untuk dapat menghasilkan penelitian yang sebaik-baiknya, dan sesuai dengan penulisan akademis yang dapat dipertanggungjawabkan. Para dosen sosial politik banyak memberi sumbangsih dan sangat menolong saya, temtu terutama promotor dan ko-promotor yang mendampingi penelitian ini. Judul disertasi saya ini, Dari Traumatis Menuju Harmoni Sosial : Refleksi Pengalaman Penyintas Pengeboman Gereja 13 Mei 2018 dari Perspektif Peter Berger dan Thomas Luckmann.”

Suatu kerinduan terdalam saya adalah toleransi antar agama di bumi Indonesia, supaya bangsa yang majemuk ini semakin dewasa dalam keperbedaan, dan tujuan akhirnya adalah kemajuan Bangsa Indonesia di mata dunia.  Kerinduan saya dalam penulisan ini, bahwa agama yang baik dan spiritual yang suci, dapat menjadi pembawa perdamaian bagi seluruh manusia.

Harapan saya disertasi ini dapat menjadi acuan, referensi dan perenungan bersama bagi penelitian-penelitian selanjutnya. Sekalipun penulis menyadari masih banyak kelemahan dan kekurangan dalam penulisan ini.  Kiranya Tuhan selalu menolong kita bersama untuk mewujudkan kebersamaan, kasih antar sesama dan saling menghargai keperbedaan iman di bumi Indonesia.

------------------------------------------------------------

Halleluya, segala puji syukur saya panjatkan kehadapan Tuhan Yesus Kristus atas semua kesempatan yang diberikan dalam studi ini.  Tidak terbayangkan bahwa waktu yang lama menyelesaikan studi ini adalah supaya saya belajar sungguh-sungguh memahami bagaimana penelitian dapat dilaksanakan dengan sebaiknya, dan herannya saya senang sekali menikmati proses studi, dan Puji Tuhan dalam keadaan sehat terus.

Proses panjang studi ini, akhirnya dapat saya jalankan dengan kemurahan Tuhan semata-mata.  Tema Disertasi ini mengingatkan saya pribadi untuk mengupayakan harmonisasi dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam perbedaan iman, sehingga hidup bersama di bumi Indonesia menjadi damai sejahtera.

Proses panjang studi ini, tidak mungkin dapat selesai dengan baik, tanpa bantuan para dosen sospol Universitas Airlangga, dan banyak pihak yang membantu, mendoakan dan mendukung berjalannya studi ini.  Ijinkan saya menyebutkan nama-nama mereka, yakni :

1.    1.  Promotor, Dr. Kris Nugroho, Drs. MA. dan Co. Promotor,  Prof. Dr. Dwi Windyastuti Budi H, Dra., MA. sangat sabar dan teliti dalam menolong penulis dalam penelitian yang baik, mengarahkan dan membimbing penulis sehingga dapat menyelesaikan studi.

2. 2. Ketua Program Studi Doktoral Ilmu Sospol, Prof. Dr. Toetik Koesbardiati, Dra.,yang selalu rajin memberi semangat untuk dapat menyelesaikan studi.

3. 3.  Dekan dan seluruh staf dari Fakultas ilmu sosial dan politik Universitas Airlangga Surabaya, terimakasih untuk fasilitas dan karya layanan bagi saya pribadi selama menempuh studi di Airlangga

4.   4.  Penasehat akademik, Prof. Dr. Musta’in Drs, M.Si (alm), juga diawali oleh Prof. Ramlan yang pernah mendampingi penulis diawal study, diskusi dan bimbingan yang sangat berarti, sehubungan penulis berlatar belakang teologi.

5.     5. Para Dosen MKPD ( Mata Kuliah Penunjang Disertasi), Metodologi oleh    Prof. Dr. Romo Armada , Teori oleh Prof. Dr. Bagong, dan Materi oleh Pak Novri Susan, Ph.D.  Para dosen penguji , antara lain : Prof. Hotman Siahaan, Dr. Airlangga Pribadi Kusman, Prof. Thomas Santoso, Prof. Warsono, MS, dan seluruh tim penguji lainnya. Para Guru Besar dan Dosen S3 Sospol Unair dalam memberi materi perkuliahan, sebagai dosen penguji  yang sangat berharga bagi penulis.

6.    6. Rektor Universitas Airlangga Surabaya, terimakasih atas diijinkannya saya mendapat ruang belajar menempuh program doktoral dalam ilmu sosiologi, fakultas ilmu sosial dan politik.

7.    7.  Seluruh staf akademik, Pak Rofig, Mas Tino, Mb. Rischa, Mb Anisa, Mas Yoga yang terus memolong penulis dalam menghadapi setiap ujian dan informasi penting dalam menempuh studi.

8.    8. Seluruh teman-teman prodi S3 angkatan 2018-2019 , yang mempunyai kata kekompakan, ”Mati aku rekk,” yang mengingatkan kebersamaan, saling mendukung dan memberi sebutan aku “umik,” terimakasih kepada komandan Puji, Mbak Arini, Poppy, Feby, Refty, Netty, Rojabi, Ilham, Zammy, Mukayat, Rio, Sudhan, Dhany, Ali, Habib, Noer Sidik.

9.    9.  Majelis Jemaat GKI Sulung, sekalipun kurang memahami langkah saya untuk studi doktoral di Unair, saya tetap berterimakasih karena studi ini dimulai dengan ijin pimpinan gereja pada saat memulainya.  

10.  10. Jemaat GKI Sulung yang mendukung dan mendoakan studi saya. Terimakasih banyak kepada Ibu Ika dan Pak Irwanto yang memberi tempatnya untuk aku menyelesaikan disertasi, Luki dan Ivon yang memberi kendaraan kapan saya membutuhkan, Melany, alm. Ibu Mega yang terus menerus mengatakan bangga atas studiku, alm. Bupen Rut dan Pakpen Siswanto sebagai rekan share pelayanan dan semua rekan-rekan, yang tidak bisa saya sebut satu persatu dalam komunitas GKI Sulung.

1111. Keluarga Besar Manik, untuk orangtua alm. Drs.M.Manik dan alm. Dasima Silalahi ( bunda yang mendorongku studi lagi), Bang Binsar, Kak Rita (prof yang juga memahami proses studi dan memberi arahan), Kak Muti, Bang Bona, eda Uwi, eda Nining, Bang Samudra dan keponakanku Marcello, Elder dan Adon. Keluargalah yang mendoakan aku tak henti dalam proses panjang studi ini.

1212. Sahabatku Denny Lalitan, Linda Bustan, Martus (Pemberi rekomendasi study, bersama alm. Ibu Atty dari SAAT, Malang) dan Kunkun, Njoo Mee Fang, dan tentunya group kopi sulung sebagai komunitas yang menyenangkan sebagai teman ngobrol pada saat berkunjung ke Surabaya.  Sahabat dan kawans sangat berarti bagiku dalam mendukung dan mendoakan.

        Penulis menyadari sepenuhnya bahwa disertasi ini, masih banyak kekurangan, jauh dari sempurna, karena itu masukan pembaca sangat diharapkan dalam memperbaiki tulisan masa mendatang.  Kiranya penelitian ini, bukan hanya berhenti pada masa studi doktoral dan bermakna dalam memenuhi syarat kepada penulis, tetapi juga dapat memberi kontribusi pada dunia akademik, secara khusus penelitian-penelitian relasi antar agama, dan penelitian sosial masyarakat.  Akhir kata, terpujilah nama Tuhan Yesus Kristus yang menjawab segala pergumulan dan doa penulis. 

 

 















Sabtu, 21 Maret 2020



Gereja, Prapaskah dan Covid-19


( jatim darurat bencana covid 19, 20 maret 2020)

Masa Prapaskah 2020 diiringi dengan situasi dunia dan Indonesia yang berhubungan dengan covid-19.  Dunia kita heboh dengan covid 19, ribuan orang meninggal dunia karena situasi ini…meninggal karena tidak peduli, meremehkan, tidak mengerti terkena, lambat penanganan, komplikasi kesehatan lainnya, lemah tubuhnya,dan lain-lain.
Bagaimana Sikap Gereja ? 
Prapaskah adalah mengingat adanya peristiwa besar mempersiapkan keselamatan dunia, melalui utusanNYA hadir dalam diri Yesus Kristus.  Kristus datang dengan berbagai konsekwensi pengorbanan untuk kehidupan manusia yang sesungguhnya, dengan kata lain  kita terinspirasi Kristus yang hadir untuk menghidupkan, bukan mematikan..
Covid 19 adalah virus yang cepat menyebar, sehingga dalam waktu beberapa minggu ratusan negara mengalami penderitaan sebagai dampak dari virus ini, bahkan kematian manusia ribuan menjadi taruhan karena virus ini.
Gereja hadir dengan semangat prapaskah dimana Kritus rela berkorban untuk kehidupan, Gerejapun berani mengambil tindakan-tindakan sehubungan dengan core business Gereja sebagai utusanNYA ditengah dunia yang memberi kehidupan kepada sesama .
Ketika Gereja mengambil keputusan untuk ibadah online ini adalah keputusan gereja sehubungan dengan tugas misinya, menyelematkan kehidupan /sesama …memperhambat penyebaran virus corona adalah sikap berpihak kepada kehidupan, bukan kematian. Bukankah disini hakehat kehadiran Gereja ?

Gereja menyuarakan untuk melawan covid19 dengan menyediakan hand sanitizer disetiap lantai /pintu masuk atau keluar ruang ibadah, menganjurkan menjaga jarak (bahkan sudah ada yang mulai atur tempat duduk di gereja), pakai masker, dll …Kog Gereja urusan amat ya ? ...itulah Gereja, hidup bukan memperhatikan diri sendiri tapi menyuarakan kesehatan untuk kebaikkan sesama…bahkann kalau aksi puasa kita untuk hal ini, saya pribadi setuju sekali (betapa mahalmya tenaga medis dalam perlengkapan menolong mereka yang terkena virus, belum lagi mereka membutuhkan vitamin untuk bekerja). Gereja hadir dirasakan kesaksian dan kasihnya….seperti Kristus waktu hadir di dunia.
Gereja online, ikuti anjuran pemerintah?? ada ada aja, apa ngak kurang iman ? kog takut ya…
Nah, pemikiran diatas juga tidak bisa dibenarkan.  Kalau kita melihat tulisan diatas sehubungan dengan masa prapaskah,inspirasi prapaskah adalah berkorban untuk kehidupan, maka kita tidak akan berpikir demikian.
Lagipula ketika Pemerintah menganjurkan bekerja, belajar dan beribadah di rumah, yang mana untuk kehidupan masyarakat, maka Gereja mendukung.  Pemerintah yang baik, yang memikirkan kehidupan masyarakat maka harus didukung Gereja (roma 13 baca lagi deh … 🙂  ) 
Gereja itu bukan gedungnya, tapi orangnya…
Gereja hadir di Indonesia untuk menjadi berkat dalam kesaksian…kebersamaan Gereja dan pemerintah untuk memerangi virus covid 19 adalah kesaksian Gereja dalam berpartisipasi kepada kehidupan orang banyak , bukankah dalam liturgi kita diakhiri dengan pengutusan kedalam dunia ? itu artinya sama dengan tindakan gereja online dimana kita diutus menyelamatkan kehidupan sesama.
Gereja “dipaksa” menjadi Gereja yang diutus kepada dunia (jika belum sadar), bukan gereja yang menikmati spiritual pribadi /vertikal tetapi gereja yang merangkul sesama, spiritual yang horizontal (bukan vertikal saja)
Gereja dalam kondisi sosial Covid 19 
kita diajak menjadi gereja yang bermakna, berfungsi, bersaksi,…iman kita direnungkan lebih dalam, iman kita diajak “berpikir, bergerak, bersikap, bertindak” nyata untuk sesama..
Terimakasih kepada Tuhan atas semua situasi ini, apapun kami berterimakasih karena tahu ENGKAU hadir di setiap situasi , Amin. Kami percaya bisa melewati bersamaMu..
Kau ajar kami untuk tanggap situasi dan berpikir ulang tentang iman dan kesaksian Gereja , tidak memikirkan diri sendiri, tidak hidup dalam rutinitas dan formalitas beribadah...
selamat beribadah Online Jemaat GKI Sulung 
imanmu berarti ketika memberi kehidupan bagi sesama 
Salam kasih,
Pdt. Agustina Manik 
Note : diatas adalah gubernur jatim yang mengumunkan Jatim dalam keadaan darurat bencana, menyedihkan saya dan hanya bisa berdoa ….


Senin, 09 Desember 2019

Yohanes Pembaptis #MeditationAdvent#

Dalam Masa penantian /Advent ini Kita bisa check kehidupan Kita melalui tokoh2 yg memberitakan Natal...salah satunya Yohanes Pembaptis. Kemenarikkan Kita dengan tokoh ini seperti yang dikisahkan Yohanes 1:19-28 adalah seorang yg tidak berambisi menjadi besar (the great man) sekalipun kesempatan itu Ada Dan tidak Ada keinginan utk menjadi pusat perhatian orang, dia pribadi yang bersahaja Dan hanya menginginkan bisa menjalankan tugasnya sebagai orang yang berseru seru di padang gurun "luruskanlah jalan bagiNya"...hanya suara itu yg dia ingin orang lain ketahui ..

*Godaan manusia adalah INGIN MENJADI BESAR ,INGIN BERKUASA, bahkan utk itu memanipulasi, berbohong Dan melakukan hal2 APA saja untuk BERKUASA. Hal ini jauh dari Yohanes, dia dengan tegas mengatakan dirinya Bukan Media's,Bukan Elia,Bukan Nabi yang akan datang ...Yohanes bahkan menempatkan dirinya seorang tidak berkenan, tidak sesjajar bahkan dengan hamba sekalipun ...membuka Tali kasutNyapun aku tidak layak ..begitu katanya. Kita tahu kalau orang Yahudi Dan Farisi menempatkan dia sama dengan nabi, Elia ,bahkan Mesias maka sebenarnya dia seorang yang besar ...
Ada ya orang tidak tertarik kepada Kebesaran Dan Kekuasaan, apa sebabnya ??? panggilan Tuhan menempatkan dia sebagai orang yang mempersiapkan jalan Tuhan sudah cukup bagiNya. tertarik dengan panggilan ...😍😍🙏🙏

*Godaan manusia adalah kemegahan /kesombongan . Kita dari kecil sudah dilatih untuk bersaing dalam kehidupan ini,jadi jiwanya jika Kita bisa memperoleh kekayaan, kepandaian, status,jabatan maka Kita sadar atau tidak merendahkan yang lain, ya karena kompetisi itu.  Yohanes seorang yang humble, dia merasa bukan siapa siapa ,utusanNya kepada dirinya bukan diartikan bahwa dia special , tapi karena begitulah kehidupan dalam Tuhan mempunyai tugas .Tugas dijalankan saja, karenanya ketika ia membaptis Dan itu pekerjaan besar dari seorang yg besar (kalau kamu bukan siapa siapa kenapa membaptis ?) ,Tapi Yohanes mengartikan baptisan airnya adalah memanggil orang percaya kepada Mesias, kemudian Yohanes membandingkan bahwa karyanya tidak seberapa dibanding DIA ,anak domba yang akan hadir.  Yohanes benar benar tidak tahu artinya sombong /memegahkan diri.

Dalam Masa Advent ini Mari Kita terus memacu diri bahwa yang Kita fokuskan adalah berkarya bagiNya melalui sesama ...apa panggilanmu? Kerjakan saja . Mari Kita berupaya bukan untuk dipuji atau dihormati orang,supaya Kita tulus memenuhi panggilan ,semua Kita lakukan karena Kita puas dengan panggilanNya (segala profesi Dan aktivitas hidup bagi sesama).
Mari bercermin seperti Yohanes Pembaptis : tidak berbohong,tidak sombong,setia panggilan , ...matikan keinginan BERKUASA /menguasai sesama ,matikan keinginan untuk dipuja puji ..
Biarlah menantiNya karena hanya DIA yang patut dimuliakan,sekarang dan selama lamanya 😍😍😍🙏🙏🙏selamat Advent 🌟🌟🌟

Kamis, 11 Juli 2019




Perempuan dan “Liyan”
  Prof. Dr. F.X. Eko Armada Riyanto, Cm


            “One is not born, but made a woman,” adalah ungkapan filsuf Simone de Beauvoir yang menggambarkan kondisi perempuan dalam societas, menurutnya perempuan itu tidak (pernah) ada sampai dia “dibuat demikian” oleh societasnya.   Diskursus filosofi Liyan tidak terpisahkan dari eksistensi perempuan karena dalam sejarah peradaban manusia perempuan diperlakukan berbeda dengan laki-laki, dipandang protogonis dan diperlakukan sebagai antagonis.  Perjalanan societas modern masih menempatkan perempuan dalam dunia Liyan, dunia ketertindasan dan keterpurukan.  Ratifikasi perundang-undangan kerap menceburkan permpuan dalam kubangan ketidakpastian mengenai hak-hak atas tubuh dan eksistensinya.

Wajah Liyan Sumiati
            Dalam kasus penganiayaan Sumiati di Saudi, kaki hampir lumpuh, muka sembab, bibir digunting, dll  Ini menggambarkan Sumiati sebagai subyek yang ingin dilenyapkan martabatnya.  Filsuf Hegel menegur, dikatakan setiap kesadaran manusia selalu mengharapkan kematian Liyan (Other).
Situasi komunitas kita /negri baru memandang Sumiati setelah babak belur, di negri sendiri, TKI identik yang tersisihkan, karena keterampilan dan kemampuan mereka bekerja tidak diperhatikan sehingga rentan terhadap penganiyaan.  Sebenarnya situasi perempuan sudah lama ada dalam keterkungkungan, pendidikan bukan hak mereka, mereka dianjurkan cepat mencari laki-laki, kemudian menjadi pendamping laki-laki /suami, menjadi manusia yang tidak pernah mandiri, manusia yang tergantung dan terikat, mereka berada di pinggiran kehidupan sehari-hari.  Belum lagi mereka rentan terhadap kekerasan, manipulasi, perbudakan, penganiyaan dalam rumah tangga.

Narasi Shamelin
            Narasi Shamelin juga narasi seorang Liyan, seorang pembantu rumah tangga yang bergelantung dengan seutas tali dari apartemen tinggi karena mendapat perlakuan yang tidak manusiawi jika ada kesalahan dan haknya (gaji) tidak diberikan selama 5 bulan. Banyak kasus serupa dalam wajah humanitas kita. Emmanuel Levinas mengingatkan prinsip etis kehadiran manusia adalah sebagai subyek, tidak ada ruang /tenggang waktu manusia diperlakuan sebagai obyek.  Shamelin adalah potret manusia Liyan yang tertindas.

Menggembok Kesadaran
            Perempuan sebagai Liyan tidak saja terjadi pada zaman Kartini, tetapi juga saat ini ketika dirinya “digembok” dalam kungkungan kultur maskulinistik   Kartinilah simbol kebebasan, dimana ia meneriakkan kesadaran akan keterpurukkan dari lubang keniscayaan adat istiadat.  Kartini dapat dikatakan pemicu kesadaran maju, kesadaran kebebasan.  Dalam agama perlakuan perempuan sama saja, perempuan malah diperlakukan dalam “perlindungan” maskulinitas, agama malah mundur dalam prinsip-prinsip kebebasan.
Simbolisme gembok megidentifikasi seakan-akan perempuan nyaman, padahal perempuan sudah tereduksi pada tubuhnya, dipersempit hanya yang menimbulkan nafsu (perempuan identik dengan alat kelaminnya), sekalipun perempuan dilabelkan pekerja keras, namun sehari-harinya mereka direndahkan, dipermalukan.  Perempuan dalam kerja kerasnya diasosiakan dengan kehinaan (derita TKW), goyangannya diasosiasikan dengan kepornoan, kemolekkan tubuh dan kecantikan dilihat sebagai introduksi bahaya kriminalitas.  Dimana subyektifitas perempuan?

“The second sex”
            Liyan adalah the second sex.  Perempuan disebut demikian karena sex, ia berbeda tetapi juga dibedakan dari laki-laki.  The second sex disini bukan dalam pandangan perilaku seksual, kategori sosial dalam peran fungsional kemasyarkatan, tetapi dalam kategori ontologis keseharian dan transcendental sekaligus.  Para filusuf banyak menempatkan perempuan dalam mahluk yang menggembol beban seksual, bahkan perempuan masuk kategori wilayah tidak jelas (tidak dipehitungkan dalam area maskulinitas).  Plato menempatkan polis tidak ada dalam area perempuan, perempuan bukan warga negara, polis identik dengan laki-laki, perempuan ada dalam kerumunan para budak.  Demikian filsuf-filsuf lain menenggelamkan eksistensi perempuan (bertugas melahirkan, perempuan tidak hadir dalam dinamisme sejarah).

Me-Liyan-kan Perempuan
            Sejarah perundang-undangan di banyak tempat di negara ini kerap menjadi sesuatu yang emblematis dari sebuah upaya ratifikasi hukum yang pada intinya menyembunyikan maksud-maksud untuk “me-liyan-kan” perempuan.  Dalam sejarah peradaban, positivisme merupakan salah satu musuh paling hebat dari prinsip keadilan tata hidup bersama.  Positivisme umumnya dikenal dalam sistem hukum, tetapi karena hukum gandengan dengan prinsip nilai baik buruk, positivisme juga berurusan dengan moral.  Dalam Positivisme setiap pengesahan undang-undang adalah kemenangan, selanjutnya rentan terhadap intimidasi, penindasan, kesewenang-wenangan, penyepelean pribadi-pribadi manusia.
Sebagai contoh positivism, dalam RUU Porografi dan pornoaksi (RUU-PP)  dimana fokusnya kerap dihubungkan dengan goyangan pantat, pamer perut, pusar, paha, dada.  Dan hampir semuanya diatribusikan pada segala hal milik perempuan.  Paling runyam dalam RUU-PP ialah diskriminasi dan hal ini tertuju kepada perempuan, cara berpikirnya lebih banyak dilihat dari sisi fisik yang merisaukan laki-laki, seharusnya kalau adil apa yang ada dari laki-laki juga diperlakukan sama.  Sangat rancu pemikiran nilai buruk dari penilaian RUU-PP ini.

Para perempuan yang mengesankan dalam Bharatayuda
            Dalam pewayangan jawa, kerap perempuan tidak menjadi lakon, perempuan kerap tampil sebagai Liyan (kecuali srikandi).  Namun demikian beberapa kisah menampilkan “wajah”  yang mengesankan.  Kakawin Baratayuda menghadirkan perempuan dengan segala personalitasnya.  Ada perempuan membenci (Drupadi terhadap kesombongan Dursasana), mencintai (Sitisundari terhadap Abimanyu atau Setyawati terhadap Prabu Salya), tegar dan teguh (Kunti ketika memberi semangat kepada anak-anaknya untuk melaksanakan dharma), berani dan berkorban (Srikandi).  Dalam kakawin Bharatayuda perempuan-perempuan secara kongkrit hadir, melaksanakan dharma mereka, personalitas mereka nampak nyata, sementara RUU-PP nampaknya melindungi perempuan tetapi malah menenggelamkan personalitas perempuan , perempuan hanya identik dengan “seonggok daging” (tubuh) yang memiliki karakter-karakter sensual atau yang berkaitan dengan pornografi dan pornoaksi yang menimbulkan birahi laki-laki.

“Wajah” Perempuan

            “Wajah” (kehadiran personal) dari perempuan-perempuan dalam kakawin Baratayuda lebih menampilkan prinsip-prinsip individual humanis.  Para perempuan menikmati kultur dependensi-independensi terhadap budaya patriakhal, termasuk dalam mengekspresikan cintanya.  Ekpresi cinta hanya mungkin dalam kebebasan. Tidak banyak yang ambil bagian dalam perang, tetapi keterlibatan khas masing-masing dari Kunti, Drupadi, Setyawati, Srikandi, Utari, Sitisundari, dll mengukir simbolik rupa-rupa wajah cantik nan memesona.  Sementara itu “wajah” perempuan dalam penyusunan RUU-APP terancam tenggelam dan hiruk pikuk perdebatan paranoid bahasa simbolistis modernitas.  Ponografi dan pornoaksi adalah dua entitas yang menjadi sasaran telunjuk sebagai biang keladi dari segala kebobrokan moral.  Ketika sensualitas diidentikan dengan introduksi nafsu birahi (dari laki-laki) yang menggelandangkan mereka kebejatan, rasionalitas seakan dinisbikan. Yang ada dari perempuan: “seonggok” tubuh yang menjadi obyek pemuas nafsu (laki-laki). RUU-APP Berlagak sebagai rambu-rambu moral yang melindungi “tubuh” perempuan dari kemungkinan manipulasi dan eksploitasi seksual, padahal perempuan kehilangan kehadirannya /disangkal.

Pencapaian Doktor FISIP UNAIR

  UJIAN DOKTOR TERBUKA  19 JUNI 2025  Pdt. Em. Dr. Bertuah Agustina Manik  Panitia Penguji Disertasi  Ketua : Prof. Dr. Bagong Suyanto, Drs....